Tantangan Pengobatan Thibbun Nabawi

5 Tantangan Pengobatan Thibbun Nabawi Pada Era Kesehatan Modern

5 Tantangan Pengobatan Thibbun Nabawi Pada Era Kesehatan Modern

Dalam sebuah artikel apik yang ditulis oleh dr Raehanul Bahraen yang berjudul “Haruskah Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi Dipertentangkan?“, beliau memaparkan kesalahpahaman terhadap pandangan masyarakat muslim tertentu terhadap kedokteran modern.

Menurut dr Raehanul ada tiga anggapan yang keliru mengenai kedokteran modern, yaitu :  

  1. Kedokteran modern berasal dari pemikiran orang-orang non muslim
  2. Menggunakan bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh
  3. Jika tidak menggunakan pengobatan Thibbun Nabawi berarti tidak mengikuti sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

Dalam tulisannya beliau berusaha meluruskan pemahaman keliru tersebut dengan penjelasan sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya. Artikel itu pernah beberapa kali di posting pada blog kesehatan lain.

Untuk lebih lengkapnya bisa dibaca pada link judul artikel diatas..

Artikel ini tidak akan mengulang atau membahas kembali pandangan tersebut, sebaliknya saya akan mencoba memaparkan tantangan pengobatan Thibbun Nabawi di era kesehatan modern.

Sehingga dengan mengetahui tantangan tersebut maka eksistensi sunnah nabi dalam bidang kesehatan (pengobatan) bisa dipertanggungjawabkan secara medis. Dan kita sebagai generasi pewarisnya bisa berperan dalam meneruskan sunnahnya.

Lima Tantangan Pengobatan Thibbun Nabawi

Pada zaman modern dan serba canggih ini keberadaan pengobatan ala Rasul menjadi sebuah secercah harapan untuk meraih kesehatan yang lebih baik dan sesuai sunnah. Sekaligus menjadi tantangan besar terhadap bentuk (metode) dan efeknya bagi kesehatan manusia.

Pola pikir masyarakat yang perlahan berubah kepada kehidupan yang cenderung kembali ke alam (back to nature), semakin membuat eksistensi pengobatan Thibbun Nabawi menjadi lebih dikenal.

Ada lima tantangan pengobatan Thibbun Nabawi pada era kesehatan modern. Tantangan tersebut saling berkaitan satu sama lain dan saling menguatkan. Berikut adalah paparannya :

Tantangan #1 – Dukungan Ilmu Pengetahuan

Albert Einsten pernah berkata :

“Religion without science is blind. Science without religion is paralyzed – Agama tanpa ilmu adalah buta, ilmu tanpa agama adalah lumpuh.”

Pernyataan ini bermakna bahwa ilmu dapat membantu menyampaikan lebih lanjut ajaran agama kepada manusia. Dan agama dapat membantu memberikan jawaban terhadap masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu.

Ilmu dan agama jika berjalan tanpa beriringan dan dengan sikap fanatik yang berlebihan maka akan berpotensi membuat kehancuran bagi peradaban manusia.

Begitu juga dengan Thibbun Nabawi yang harus didukung dengan ilmu pengetahuan terkini. Sudah menjadi bagian dari tanggung jawab cendekiawan/peneliti muslim, para praktisi dan umat muslim pada umumnya untuk membuktikannya secara science.

Sampai saat ini sudah banyak penelitian terhadap berbagai metode pengobatan nabi baik yang bersifat spiritual, material dan terapi. Salah satu contoh kecil dari sekian banyak penelitian yang dilakukan oleh para ahli di bidang kesehatan adalah penelitian yang dilakukan oleh tim dokter divisi bedah plastik RSCM.

Dari hasil penelitiannya disimpulkan bahwa tiga bakteri yang terkenal berbahaya yaitu, Pseudomonas sp, Stapilococus sp serta MRSA (methicillin-resistant stapilococus aureus) ternyata dapat dimatikan oleh madu [1].

Seperti yang kita ketahui bahwa madu adalah salah satu metode pengobatan warisan Nabi yang populer saat ini.

Tantangan #2 – Meluruskan Persepsi Tentang Pengobatan Alternatif

Pengobatan alternatif tidak selalu dikategorikan sebagai Thibbun Nabawi, dan pengobatan Thibbun Nabawi tidak seharusnya dijadikan alternatif pengobatan.

Ada persepsi dimasyarakat yang mengasumsikan bahwa pengobatan alternatif sebagai pengobatan berbasis syariat. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu.

Seperti yang pernah dibahas di artikel sebelumnya, bahwa pengobatan nabi berasal dari wahyu sedangkan pengobatan alternatif belum tentu berasal dari wahyu.

Pada kenyataannya tidak jarang kita temui pengobatan alternatif yang bersifat magis dan berkaitan dengan hal gaib, atau menggunakan mantra-mantra tertentu yang seolah-olah adalah bacaan yang sesuai dengan syariat.

Ini yang tidak dibenarkan dan bertentangan dengan kaidah pengobatan nabi.

Berikut adalah ciri-ciri suatu pengobatan alternatif yang dikategorikan melanggar syariat Islam :

a. Adanya persembahan untuk selain kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Seperti menyembelih hewan tertentu (semacam kurban) untuk dipersembahkan sebagai syarat dalam proses penyembuhannya. Dasar dalilnya adalah :

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala…” (QS. Al-Maidah : 3)

b. Menggunakan jin atau bantuan makhluk halus dalam mendapatkan kesembuhan

Perbuatan ini bertentangan dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebab beliau pun belum pernah berobat menggunakan bantuan jin atau mahluk halus lainnya. Dasar dalilnya adalah :

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.“ (QS. Al-Jin : 6)

c. Menggunakan cara-cara syirik pada proses pengobatan

Seperti melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran Islam, contoh : menyediakan sesajen, menggunakan jimat, mendatangi makam (kuburan) tertentu dalam proses pengobatannya. Dasar dalilnya adalah :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ : 48)

d. Menggunakan obat-obatan yang diharamkan

Seperti mengonsumsi daging babi, darah, bangkai, air kencing atau makanan yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dasar dalilnya adalah :

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan janganlah berobat dengan yang haram”. (HR. Ad Daulabi dalam al-Kuna, dihasankan oleh Syeikh Albani dalam kitab Silsilah al Hadiits ash- Shohihah no. 1633).

Sebagian ulama Hanafiyah[2] dan Syafi’iyah[3] membolehkan berobat dengan yang haram, tentu saja dalam kondisi darurat dan dengan alasan yang kuat, seperti :

  • Tidak ada obat mubah yang lain
  • Secara medis terbukti mampu memberikan efek penyembuhan

Dasar dalilnya adalah :   

“Katakanlah : Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am : 145)

Baca juga bahasan tentang ciri pengobatan yang melanggar syariat, agar Anda lebih waspada.

Tantangan #3 – Peran Para Dokter Muslim dan Rumah Sakit

Kenapa hal ini perlu..?

Karena mereka memiliki ilmu yang mumpuni dalam dunia medis dan diakui secara keprofesiannya. Sehingga sudah sepantasnya para dokter muslim menjadi bagian dalam menyebarkan risalah Islam dalam dunia pengobatan.

Salah satu dokter muslim yang sangat concern terhadap pengobatan nabi ini adalah dr Zaidul Akbar. Beliau mencoba mensyiarkan praktik sehat ala Rasulullah dan menjadi inspirator kesehatan Islam di Indonesia.

Tidak heran pada bulan Agustus 2015, dr Zaidul Akbar mendapatkan penghargaan dari Dompet Dhuafa Award 2015 dalam bidang kesehatan sebagai tokoh inspiratif dalam pengembangan kesehatan Islam.

Beliau yakin pengobatan Islam suatu hari nanti akan bisa sejajar dengan pengobatan konvensional tanpa harus perlu bersinggungan, karena semua  memiliki porsi masing-masing. Dan beliau berharap kedepannya akan bermunculan rumah sakit-rumah sakit yang lebih mengkhususkan kepada penggunaan obat-obatan herbal khususnya herbal islami.

Berikut cuplikan video yang dirilis oleh Dompet Dhuafa Award 2015 :

Rumah sakit pun memiliki peran yang tidak kalah penting. Karena disinilah tindakan medis terhadap pasien dilakukan dengan penuh tangung jawab.

Menilik kembali kepada sejarah, bahwa konsep rumah sakit pertama di dunia dibangun pada saat peradaban Islam sedang berjaya. Didirikan pada masa Dinasti Umayyah saat dipimpin oleh Khalifah Al-Walid (705-715 M) dan diberi nama Biramistan yang artinya rumah sakit dalam bahasa Farsi.

Sumber lain menyebutkan bahwa rumah sakit Islam pertama di dunia dibangun pada era Harun Al Rasyid (786-809 M) yang terletak di Baghdad, sebagai pusat pemerintahan Islam pada saat itu.

Pada masa itu Eropa masih diliputi oleh kabut hitam abad kegelapan (The Dark Ages), tetapi Islam sudah memberikan kontribusi yang besar di bidang kesehatan dengan mendirikan rumah sakit Islam.

Dimana rumah sakit Islam berdiri untuk melayani semua orang tanpa membedakan warna kulit, agama, serta strata sosial.

Tantangan #4 – Obat-obatan yang sesuai standar kesehatan

Pengobatan dan tindakan medis nabi menunjukan perilaku kembali ke alam dan menggunakan obat-obatan alami (herbal).

Sehingga penggiat kesehatan yang merindukan pengobatan alami berbondong-bondong memilih mengkonsumsi obat-obatan herbal dalam menjaga kesehatan atau untuk menyembuhkan penyakit.

Mereka percaya bahwa bahan-bahan dari alam aman 100% dan tanpa efek samping. Anggapan itu mungkin juga ada benarnya, tetapi jika produknya belum terstandardisasi maka proses pengobatan akan menjadi kurang optimal.

Setidaknya ada tiga izin yang harus dikantongi sebuah produk obat-obatan herbal, agar mendapatkan standar minimal yang aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

Ketiga izin tersebut berasal dari instansi yang berkompeten di bidangnya, antara lain :

i. Perizinan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)

Badan Pengawas Obat dan Makanan atau disingkat BPOM adalah sebuah lembaga di Indonesia yang bertugas mengawasi peredaran obat-obatan dan makanan di Indonesia.

BPOM adalah satu-satunya lembaga di indonesia yang bertugas mengawasi dan mengatur peredaran obat, makanan, minuman, kosmetik, suplemen dan jamu di Indonesia.

Produk obat-obatan herbal yang ingin bersaing di industri kesehatan saat ini, wajib mengantongi izin BPOM. Dan jika tidak memiliki izin tersebut sanksinya dapat berupa :

  • Penutupan kegiatan usaha
  • Penarikan barang dari peredaran
  • Pelarangan ijin beredar
  • Bahkan dalam beberapa Perda, ada sanksi yang berat, yaitu sanksi pidana berupa kurungan paling lama 3 bulan dan/atau denda yang besarnya bervariatif

ii. Perizinan DINKES/DEPKES/PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga)

Tidak dipungkiri banyak produk obat-obatan herbal yang masih diproduksi dalam skala home industry. Sehingga produk-produk yang dihasilkan sering tidak memiliki izin dari DINKES.

Izin ini bisa diberikan apabila produk tersebut tidak termasuk kriteria produk yang berbahan dasar :

  • Susu dan hasil olahannya
  • Daging, ikan, unggas dan hasil olahannya yang memerlukan proses dan atau penyimpanan beku
  • Makanan kaleng berasam rendah (PH > 4,5)
  • Makanan bayi
  • Minuman beralkohol
  • Air Minum Dalam Kemasan (AMDK)
  • Makanan/minuman yang wajib memenuhi persyaratan SNI
  • Makanan/minuman yang ditetapkan oleh BPOM

Catatan penting, Jika suatu produk makanan/minuman mampu memberikan efek pengobatan (kesembuhan), maka produk tersebut tidak bisa hanya mengantongi izin DINKES/DEPKES/PIRT karena tidak termasuk kategori industri rumah tangga.

Ini berarti produk makanan/minuman tersebut harus juga memiliki izin BPOM.

iii. Label halal MUI (Majelis Ulama Indonesia)

Satu lagi izin yang tidak kalah penting bagi produsen obat-obatan herbal yang hendak mengembangkan sayap di Indonesia.

Negeri ini selain makmur dan kaya akan bahan alaminya, juga tercatat sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim nomor 1 didunia.

Menurut catatan The Pew Forum on Religion & Public Life tahun 2010, Indonesia memiliki persentase penduduk muslim mencapai 12.7% dari populasi dunia. Dan dari 205 juta penduduk Indonesia, 88.1% memeluk agama Islam.

Merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim untuk mengonsumsi makanan/minuman halal. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala didalam Al-Quran jelas :

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (Q.S Al-Maidah : 88)

Tantangan #5 – Promosi atau Pemasaran

Masih ingatkah Anda dengan kasus vaksin palsu yang sempat heboh pada pertengahan tahun 2016?

Pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian ini adalah bahwa suatu produk kesehatan tidak hanya dituntut dari segi manfaat (efek), izin (standardisasi), dan atau bahan dasar (tidak membahayakan).

Tapi juga berkaitan dengan elemen-elemen lain, yaitu :

[Infografis] - Elemen Pendongkrak Penjualan

Elemen-elemen diatas menurut pandangan Islam harus lah menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, etika, tidak berlebihan (proporsional), dan bebas suap. Lebih lengkapnya, silahkan baca artikel berniaga sesuai sunnah pada blog ini.

Jadi sepertinya tidak berlebihan jika faktor terakhir dari tantangan pengobatan thibbun nabawi pada era kesehatan modern ini adalah faktor promosi atau pemasaran.

Masyarakat sudah seharusnya diberikan informasi yang benar dan lengkap terkait dengan manfaat pengobatan Thibbun Nabawi. Tentunya jika empat faktor sebelumnya sudah bergerak dan saling mendukung.

Layaknya sebuah bisnis, pengobatan Thibbun Nabawi (obat-obatan herbal dan terapi) saat ini sudah menjadi bagian dari industri kesehatan yang memiliki karakteristik pangsa pasar yang luas dengan margin cukup tebal.

Kelima tantangan pengobatan Thibbun Nabawi diatas tidak bisa dijawab oleh Thibbun Nabawi itu sendiri, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua sebagai umat muslim.

Anda sebagai bagian dari generasi pewaris sunnah nabi apakah siap menjawab semua dari tantangan tersebut?

Catatan Kaki
[1] Sudjatmiko, Gentur. Madu untuk obat luka kronis. 2011. Yayasan khazanah kebajikan. Tangerang
[2] Ibnu Abidin, Raddu al Muhtar, Beirut, Dar al Fikr, 2000 :  5/ 228
[3] Mawardi, al Hawi al Kabir, 15/ 170, Nawawi, al Majmu’, 9/ 41

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *