Manfaat dan Tips

[ASK] – Apakah Berhubungan Suami Istri di Malam Jumat adalah Sunnah Rasul?

Apakah Berhubungan Suami Istri di Malam Jumat adalah Sunnah Rasul

Jam menunjukan jam 21:35 WIB dan saya baru saja sampai rumah. Segera saya bergegas memasukan motor serta menutup dan mengunci pagar depan.

Anak-anak pasti sudah tidur saat ini.. Selepas shalat isya memang saya selalu menyuruh anak-anak untuk tidak tidur larut malam. Agar besok bisa bangun subuh dan agar tidak terburu-buru saat pergi ke sekolah.

Tadi sore ada meeting dadakan dengan atasan yang baru, sehingga saya terpaksa overtime untuk mempersiapkan bahan presentasi untuk beliau besok.

Padahal malam ini adalah malam jumat. Sudah menjadi hal yang lumrah buat para suami “meminta jatah” kepada istrinya.

Rencananya saya mau mampir ke apotik dekat rumah untuk beli madu kuat penambah stamina untuk bahan tempur. Tapi karena apotik tersebut sudah tutup diatas jam 21:00 WIB, jadi terpaksa deh saya perang gak pake senjata, hehehe… 😊

Dengan darah yang telah mendidih saya masuk ke dalam rumah. Dan ternyata di dalam rumah saya dapati istri saya sedang menonton TV bersama anak-anak.. 😞 

Aduh kenapa belum pada tidur pikir saya.

Ternyata istri dan anak-anak menunggu saya karena kebetulan hari ini adalah hari ulang tahun saya. Alhamdulillah mereka masih ingat akan hari lahir papahnya.

Setelah saling peluk cium dan bersenda gurau sebentar, akhirnya saya menyuruh anak-anak untuk tidur. Karena sebentar lagi adalah “sunnah rasul”.

Tiba-tiba si kecil nyeletuk “Pah.. tidur bareng-bareng yuk. Kan sekarang ulang tahun papah, dede sama kakak pengen dong sekali-kali tidur bareng lagi kaya dulu.. boleh ya pah..?”

Semangat saya yang sudah menggebu seketika padam mendengar permintaan itu. Seperti api unggun yang diguyur air hujan..

Karena melihat anak-anak yang telah rela menunggu papahnya pulang, saya pun tidak bisa menolak. Sambil mengendong si kecil, saya berucap “Ayoo..”.

Akhirnya malam pun berlalu tanpa basa-basi dan tanpa eksekusi. Dan saya hanya bisa mengerut dada sambil tersenyum..

Adakah di antara sahabat sunnah yang pernah mengalami hal serupa?

Jika ada.. mohon maaf karena kisah di atas adalah cerita fiktif belaka, jika ada persamaan kisah dan cerita hanyalah kebetulan semata saja. 😊

Berhubungan suami istri di malam jumat populer dengan sebutan “sunnah Rasul”. Istilah tersebut mungkin muncul hanya untuk memperhalus ucapan berhubungan sex antara suami-istri.

Padahal efeknya bisa FATAL jika kita tidak tahu pengertian sebenarnya dari kata sunnah. Jangan sampai terkesan bahwa Rasulullah hanya mengajarkan untuk berhubungan suami istri di malam jumat saja, tanpa ada amalan ibadah-ibadah yang lain.

Kali ini Sunnah Sehat akan mencoba memaparkan kepada Anda, kenapa Anda sekarang juga harus berhenti mengatakan sunnah Rasul sebagai aktifitas seksual suami istri di malam jumat.

Definisi Sunnah

Sunnah adalah suatu amal/perbuatan yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak akan mendapatkan dosa. Contohnya adalah solat sunnah qobliyah dan ba’diyah, puasa senin kamis, dan lain sebagainya.

Sunnah sendiri memiliki definisi yang lebih dalam dan lebih luas dari pengertian diatas. Berikut penjelasannya :

  1. Secara bahasa memiliki arti kebiasaan yang diikuti.
  2. Secara istilah  memiliki arti yang berbeda, yaitu :
  • Menurut ahli Hadist dan Ushul Fiqih
    Sunnah adalah periwayatan yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat beliau.
  • Menurut ulama Fiqih
    Sunnah adalah semua amalan yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak mendapatkan dosa (seperti penjelasan diatas).
  • Menurut ulama Aqidah
    Sunnah adalah seluruh petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam pondasi agama dan cabang-cabangnya, baik berupa keyakinan, amalan, maupun petunjuk lain. Dalam masalah ini, sunnah adalah lawan dari bid’ah. Terkadang sunnah sendiri bermakna agama secara total.

Nah dari definisi diatas bisa diambil kesimpulan bahwa sebutan berhubungan suami istri di malam jumat dengan istilah sunnah Rasul dapat mengerdilkan definisi sunnah Rasul itu sendiri.

Padahal jika sunnah Rasul didefinisikan menurut ahli hadits, maka warisan Nabi itu banyak sekali baik dalam hal pendidikan, perdagangan maupun kesehatan/pengobatan.

Berhubungan Suami Istri di Malam Jumat

Alasan yang menjadi dalil kenapa sebutan ini mulai muncul mungkin adalah dari hadits dibawah, meskipun pemahamannya kurang tepat.

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah Shallalhu Alayhi Wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa mandi di hari Jumat seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama (mendatangi masjid untuk shalat Jumat), ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Bukhari No. 881 Muslim No. 850)

Penjelasan dari para ahli tafsir hadits, bahwa salah satu penyebab mandi besar (ghuslal janabah) adalah karena adanya aktifitas seksual. Dan ini (mandi junub) dijadikan dasar untuk melakukan hubungan suami istri di malam jumat.

Sedangkan jika dilihat dari tekstual hadits diatas, yang dimaksud dengan hubungan suami istri adalah pada pagi hari pada hari Jumat, bukan pada malam harinya.

Pemahaman yang kurang tepat ini sudah tersebar di masyarakat tanpa melihat asal muasal istilah tersebut berasal, yang pada akhirnya salah kaprah dan menyebutnya dengan istilah “sunnah Rasul” tanpa didasari dengan dalil yang kuat.

Padahal selain dari berhubungan suami istri di pagi hari, Rasulullah telah mengajarkan kita untuk melakukan amalan-amalan khusus di hari jumat.

Amalan Khusus di Hari Jumat

Berikut adalah sunnah Rasul yang dilakukan pada hari jumat :

  1. Memperbanyak membaca Shalawat

“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari dan malam Jumat, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali”. (HR. Al-Baihaqi (3/249) dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1407)

2. Membaca surat Al Kahfi

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua Jum’at.” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok II/399 No. 3392, dan Al-Baihaqi di dalam Sunannya III/249 dengan No. 5792)

3. Memperkuat doa

“Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar.” (HR. Abu Daud No. 1048 dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu. Dishahihkan Al-Albani di Shahih Abi Daud)

4. Shalat Jumat

“(Shalat) Jumat adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067. Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)

Saat Berhubungan Suami Istri Bernilai Pahala

Memenuhi kebutuhan seksual (bagi suami istri) adalah hal yang lumrah. Saya, Anda dan kita semua tentunya sepekat tentang ini.. ehm.. 😊

Dan Islam sebagai agama yang sempurna telah memerintahkan manusia untuk segera menikah jika sudah pada waktunya, jangan menunda-nunda. Hal ini untuk mencegah perbuatan maksiat yang sudah “diubun-ubun”.

Berhubungan suami istri dalam Islam bernilai ibadah sesuai sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

“’Dan hubungan intim di antara kalian adalah sedekah.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana bisa mendatangi istri dengan syahwat (disetubuhi) bisa bernilai pahala?’ Ia berkata, ‘Bagaimana pendapatmu jika ada yang meletakkan syahwat tersebut pada yang haram (berzina) bukankah bernilai dosa? Maka sudah sepantasnya meletakkan syahwat tersebut pada yang halal mendatangkan pahala.’” (HR. Muslim No. 1006).

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa berhubungan suami istri (jima’) bisa bernilai ibadah jika maksudnya adalah untuk menunaikan hak istri, bergaul baik dengannya, dan melakukan kebajikan sebagaimana yang Allah perintahkan.

Di samping itu, jima’ bisa bernilai ibadah bila maksudnya untuk memperoleh keturunan yang sholeh, membentengi diri agar tidak terjerumus dalam zina, agar pasangan tidak memandang hal-hal yang diharamkan, juga agar tidak berpikiran atau bermaksud yang bukan-bukan, atau niatan baik lainnya — Syarh Shahih Muslim, 7: 83-84.

Dari penjelasan Imam Nawawi rahimahullah bahwa tetap harus ada niat pada saat akan berhubungan, tidak semata hanya karena nafsu syahwat saja.

Nah.. dari penjelasan-penjelasan diatas kiranya sudah cukup jelas bahwa posisikan lah berhubungan suami istri sebagai ibadah.

Tetapi jangan mengkhususkan istilah sunnah Rasul sama dengan berhubungan suami istri di malam jumat. Karena akan mengerdilkan pengertian sunnah Rasul itu sendiri, apalagi istilah tersebut dipakai untuk sekedar main-main dan menghaluskan perbuatan/aktifitas seksual semata saja.

Gunakan istilah lain seperti malamnya pengantin, malam jatah suami, atau malam-malam yang lain..

Sebagai penutup berikut cuplikan video Bagaimana Cara Mandi Junub menurut Ustad Abduh Tuasikal,


Terima kasih semoga bermanfaat

Wallahu a’lam bish showaab

Save

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *